Wednesday, May 29, 2013

Komunitas Belajar Qaryah Thoyyibah


Objek Penelitian                    : Standar Proses dan Standar Kependidikan
Tempat dan Lokasi                : Komunitas Belajar Qaryah Thoyyibah, Salatiga
Tanggal & Waktu Observasi : 14 Mei 2013, 09.00 WIB – 12.00 WIB
Narasumber                           : Pak Jono (Pembina Kombel)
Fokus Penelitian                     : Kurikulum & Proses Pendidikan
Deskripsi Kegiatan                 :

Setelah menempuh perjalan sekitar 30 menit, rombongan kami sampai di komunitas belajar Qoryah Thoyyibah. Sederhana, adalah satu kata yang terucap dari mulut kami setelah tiba disana. Gedung sederhana, ruangan sederhana, terpancar dari lokasi kombel yang terletak cukup terpencil di sebuah desa yang ada di Salatiga. Kami disambut oleh para murid yang mengabdi di komunitas belajar tersebut serta Pembina kombel yang belakangan ini diketahui bernama Pak Jono. Kami disuguhi berbagai sambutan, tarian serta video dokumenter yang mengenalkan profil Qaryah Thoyibah lebih dalam. Setelah itu kami dipersilahkan untuk bertanya seputar informasi yang ingin kami kumpulkan untuk memenuhi tugas KKL JIAI 2010.
Data yang Didapat   :
Kurikulum Versi “Qaryah Thoyibbah”

Jika biasanya kurikulum dibuat oleh para guru atau pendidik, tetapi kurikulum satu ini dibuat oleh para murid sesuai dengan kebutuhannya. Kurikulum seperti ini diterapkan di salah satu komunitas belajar ternama yakni Qaryah Thoyyibah yang terletak di Salatiga, Jawa Tengah. Peserta didik disini, membuat kurikulum berbasis kebutuhan peserta didik tersebut. Masing-masing anak memiliki kurikulum berbeda sesuai dengan minat dan target yang dicapai. Komunitas belajar ini, terkenal dengan strategi belajar yang berbasis “child center”.
Strategi yang berpusat pada anak menjadi salah satu keunggulan sekaligus ciri khas yang ditawarkan di komunitas belajar ini. Kebebasan anak dalam berkarya, berekspresi, dan belajar sangat ditonjolkan dalam proses belajar. Anak diberikan kebebasan untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tidak ada paksaan serta tekanan dalam belajar seperti yang selama ini dialami murid-murid di sekolah pada umumnya.
Long life education adalah dasar berdirinya komunitas belajar Qaryah Thoyyibah. Karena anak tidak dibatasi belajar apapun hingga sampai kapanpun. Karena hidup adalah untuk belajar. Peran guru tidak terlalu besar di komunitas ini, guru hanya sebagai pengarah saat kegiatan belajar berlangsung. Bahkan, bagi mereka guru tidak hanya yang memiliki titel, berdasi, dan berpakaian rapi. Guru bagi mereka adalah sesuatu yang mampu memberikan mereka ilmu pengetahuan, baik itu manusia maupun alam di sekitarnya.
Memang sungguh menarik komunitas belajar seperti ini! Di tengah pro dan kontra akan kualitas-kuantitas kombel ini mampu bertahan. Semoga Qaryah Thoyyibah dapat mempertahankan eksistensi nya di tengah hiruk pikuk pendidikan di Indonesia. (Kelompok 3 IPI: Aeni, Fira, Icha, Bandi, Mely, Farah)

Mountain View (International School), Salatiga


Objek Penelitian                      : Standar Proses dan Standar Kependidikan
Tempat dan Lokasi                : Mountain View (International School), Salatiga
Tanggal & Waktu Observasi : 14 Mei 2013, 14.00-16.00 WIB
Narasumber                            : Miss Karen (Pendiri Mountain View)
Fokus Penelitian                     : Kurikulum
Deskripsi Kegiatan                  :
            
       Setelah menyantap makan siang dan melaksanakan ibadah shalat dzuhur, kami melanjutkan perjalan ke Mountain View International School di Salatiga. Hanya 10 menit waktu yang ditempuh dari alun-alun kota Salatiga hingga sampai ke Mountain View. Sesampainya disana, kami sedikit merasa tegang karena status sekolah tersebut yang notabene merupakan sekolah bergengsi dan bertaraf international. Tetapi ketegangan itu dapat dicairkan kembali setelah kami bertemu dengan miss Karen. Dan kami pun disambut dengan sangat baik. Kami dipersilahkan untuk melihat ke sekeliling sekolah Mountain View.
Data yang Didapat               :
Kurikulum Indonesia or Kurikulum Amerika?

Mountain View didirikan oleh sepasang suami istri berkebangsaan Amerika. Karen dan suami nya lah yang mendirikan sekolah tersebut. Megah, asri, mewah dan american school stylist itulah kesan yang didapat saat kami berkunjung.
            Bukan hanya proses pembelajarannya, ternyata Mountain View juga memiliki kurikulum tersendiri yang membedakan dengan kurikulum Indonesia. Mountain View mengadopsi american curiculum yang sangat berbeda jauh dengan kurikulum di Indonesia. Metode dan strategi nya pun sangat berbeda. Jika di Indonesia metode menghafal sangat dikedepankan dan ditekankan, maka di Mountain View model berpikir kritis dan kreatif lebih ditekankan.
            Karen mengatakan, “kebanyakan kurikulum Indonesia, hafal, hafal,hafal. Kalau disini harus tahu topik nya, harus tahu subjeknya nanti diberi waktu untuk berpikir, kenapa bisa seperti ini atau kenapa bisa seperti itu. Anak juga harus kreatif dan menemukan sesuatu. Jika hanya memorize anak sulit untuk berpikir out of the box.”
            Jadi jelaslah perbedaan yang terlihat antara kurikulum amerika dengan kurikulum Indonesia. Kurikulum Indonesia memfokuskan diri pada “hapalan”, sedangkan kurikulum Amerika mengedepankan “think for them selves”. Bagaimana menurut kalian?

(Kelompok 3 IPI: Aeni, Fira, Icha, Bandi, Meily dan Farah)