Thursday, May 30, 2013

Observasi di Bali Bina Insani Islamic Boarding School






Kelompok 1 IPI 2010 (Arum, Ibnu, Alfiah, Euis, Vicky dan Zulfikar


STANDAR KOMPETENSI DAN STANDAR PEMBIAYAAN.
Bali Bina Insani




Berdirinya Pondok Pesantren Bali Bina Insani tanggal 27 Oktober 1996 adalah berawal dari pendirian Pondok Yatama tanggal 27 Oktober 1991. Sejak pemuda bernama Ketut Imaduddin Djamal masuk di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathon Seloong Lombok Timur tahun 1968, jiwa pondok pesantren mulai tersemai.
  Pondok Pesantren Bali Bina Insani terletak di Desa Meliling Kecamatan Kerambitan Kabupaten   Tabanan (11 km barat Kota Tabanan, +  32 km dari kota Denpasar). Pondok Pesantren ini berdiri di  areal seluas 5700m2, dan berada di tengah-tengah masyarakat Hindu yang taat melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.
Keberadaan Pondok telah diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena beberapa faktor, diantaranya faktor kesejarahan, yang tidak pernah melahirkan komplik etnis dan agamis serta faktor toleransi (tasammuh), kebersamaan dan kesetaraan (musawwah).
Para santri dan santriwati mayoritas berasal dari Propinsi Bali, tapi ada juga dari Propinsi-Propinsi lain di Indonesia, seperti dari Sumatera, Jawa, Lombok, NTT dan dulu banyak berasal dari Timtim. Jumlah santri dan santriwati saat ini 141 orang dengan 34 orang guru. Sebanyak 9 orang ustad dan 8 ustadzah sebagai guru tetap yang mendampingi dan mengkoordinir kegiatan santri selama 24 jam.
Persyaratan untuk mendapatkan Ijazah yaitu harus Hafal 30 JuzAma.
PENGAJAR
Para pengajar terdiri dari lulusan–lulusan perguruan tinggi  yang berbasis keagamaan seperti dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah dan Alumni Pondok Pesantren lainnya serta dari perguruan tinggi umum (IKIP, UNUD). Di antara para guru terdapat beberapa orang yang beragama Hindu dengan mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan keahliannya serta mengajarkan tradisi masyarakat Bali dengan tujuan agar para santri memahami tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat sehingga komunikatif dan interaktif dengan lingkungannya. 
SISTEM
  Pondok Pesantren Bali Bina Insani mengadopsi sistem yang ada di Pondok Pesantren Darusssalam, Gontor, Darunnajah Jakarta yaitu mencoba menerapkan komunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa arab dan inggris yang dibimbing langsung oleh Ustad dan Ustazah yang menguasai bidang ini. Sistem ini diterapkan agar para santri dapat mengkaji literatur klasik (kitab kuning) serta mempersiapkan mereka agar mampu memasuki pangsa kerja sebagai guide di bidang kepariwisataan mengingat Bali merupakan primadona wisatawan manca negara.
KEGIATAN
Para santri melakukan kegiatan seperti layaknya pondok-pondok pesantren di tempat lain yaitu : mulai dari jam 04.00 pagi sampai dengan jam 10.00 malam. Dalam rentang  waktu tersebut mereka mengikuti kegiatan formal  dan non formal. Kegiatan formal yaitu : menuntut ilmu di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang berada di kampus Pondok. Sedangkan yang non formal mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat kepondokan yaitu : muhadoroh, muhadatsah, kepanduan (Pramuka), kajian-kajian kitab kuning serta kursus-kursus. Kursus  yang sedang dilaksanakan pada saat ini yaitu kursus otomotif kerja sama antara Pondok dan LLK Tabanan (Depnaker).           
 Kajian-kajian terhadap kitab kuning salah satunya dengan menggunakan  pengantar Bahasa Bali yaitu : membahas Kitab Attargib wat tarhib, Ta’limul Muta’allim. Ini dilakukan untuk memberikan bekal kepada santri agar mereka memahami Bahasa Bali serta tidak tercabut dari akar dan tradisi masyarakat Bali.
Dengan pembayaran untuk MTs dengan jumlah 3.660.000 dan MA 3.690.000.
Uraiannya seperti berikut:
Registrasi pembayaran sebesar 100.000
Syariah/ Bulanan I seperti SPP dan uang makan 395.000/MTs dan 425.000/MA
Alas Tidur dan Ranjang 800.000
Seragam 715.000
Meja kursi dan Almari 1.000.000
Infaq sarana dan prasarana 500.000
Biaya kesehatan setahun 150.000

Wednesday, May 29, 2013

Komunitas Belajar Qaryah Thoyyibah


Objek Penelitian                    : Standar Proses dan Standar Kependidikan
Tempat dan Lokasi                : Komunitas Belajar Qaryah Thoyyibah, Salatiga
Tanggal & Waktu Observasi : 14 Mei 2013, 09.00 WIB – 12.00 WIB
Narasumber                           : Pak Jono (Pembina Kombel)
Fokus Penelitian                     : Kurikulum & Proses Pendidikan
Deskripsi Kegiatan                 :

Setelah menempuh perjalan sekitar 30 menit, rombongan kami sampai di komunitas belajar Qoryah Thoyyibah. Sederhana, adalah satu kata yang terucap dari mulut kami setelah tiba disana. Gedung sederhana, ruangan sederhana, terpancar dari lokasi kombel yang terletak cukup terpencil di sebuah desa yang ada di Salatiga. Kami disambut oleh para murid yang mengabdi di komunitas belajar tersebut serta Pembina kombel yang belakangan ini diketahui bernama Pak Jono. Kami disuguhi berbagai sambutan, tarian serta video dokumenter yang mengenalkan profil Qaryah Thoyibah lebih dalam. Setelah itu kami dipersilahkan untuk bertanya seputar informasi yang ingin kami kumpulkan untuk memenuhi tugas KKL JIAI 2010.
Data yang Didapat   :
Kurikulum Versi “Qaryah Thoyibbah”

Jika biasanya kurikulum dibuat oleh para guru atau pendidik, tetapi kurikulum satu ini dibuat oleh para murid sesuai dengan kebutuhannya. Kurikulum seperti ini diterapkan di salah satu komunitas belajar ternama yakni Qaryah Thoyyibah yang terletak di Salatiga, Jawa Tengah. Peserta didik disini, membuat kurikulum berbasis kebutuhan peserta didik tersebut. Masing-masing anak memiliki kurikulum berbeda sesuai dengan minat dan target yang dicapai. Komunitas belajar ini, terkenal dengan strategi belajar yang berbasis “child center”.
Strategi yang berpusat pada anak menjadi salah satu keunggulan sekaligus ciri khas yang ditawarkan di komunitas belajar ini. Kebebasan anak dalam berkarya, berekspresi, dan belajar sangat ditonjolkan dalam proses belajar. Anak diberikan kebebasan untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tidak ada paksaan serta tekanan dalam belajar seperti yang selama ini dialami murid-murid di sekolah pada umumnya.
Long life education adalah dasar berdirinya komunitas belajar Qaryah Thoyyibah. Karena anak tidak dibatasi belajar apapun hingga sampai kapanpun. Karena hidup adalah untuk belajar. Peran guru tidak terlalu besar di komunitas ini, guru hanya sebagai pengarah saat kegiatan belajar berlangsung. Bahkan, bagi mereka guru tidak hanya yang memiliki titel, berdasi, dan berpakaian rapi. Guru bagi mereka adalah sesuatu yang mampu memberikan mereka ilmu pengetahuan, baik itu manusia maupun alam di sekitarnya.
Memang sungguh menarik komunitas belajar seperti ini! Di tengah pro dan kontra akan kualitas-kuantitas kombel ini mampu bertahan. Semoga Qaryah Thoyyibah dapat mempertahankan eksistensi nya di tengah hiruk pikuk pendidikan di Indonesia. (Kelompok 3 IPI: Aeni, Fira, Icha, Bandi, Mely, Farah)